. Definisi
Ø Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang sesuai jenis dan luasnya. (KMB 3;2357)
Ø Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan /atau tulang rawan yang umunya disebabkan oleh rudapaksa. (Kapita Selekta Jilid 2;346)
Ø Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang yang diakibatkan oleh trauma atau beberapa faktor sekunder terhadap proses penyakit seperti osteoporosis yang menyebabkan fraktur patologis.
(Barnet dan Bryan;266)
Ø Fraktur adalah patah tulang, biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik. (Patofisiologi Syilvia 2;1365)
B. Klasifikasi Fraktur
(Patofisiologi Corwin;298,KMB 3 2357-2358)
Penampilan fraktur dapat sangat bervariasi tetapi untuk alasan yang praktis , dibagi menjadi beberapa kelompok, yaitu:
1. Berdasarkan sifat fraktur.
1). Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi.
2). Fraktur Terbuka (Open/Compound), bila terdapat hubungan antara hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena adanya perlukaan kulit.
2. Berdasarkan komplit atau ketidakklomplitan fraktur.
1). Fraktur Komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto.
2). Fraktru Inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti:
a) Hair Line Fraktur (patah retidak rambut)
b) Buckle atau Torus Fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi tulang spongiosa di bawahnya.
c) Green Stick Fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya yang terjadi pada tulang panjang.
3. Berdasarkan bentuk garis patah dan hubbungannya dengan mekanisme trauma.
1). Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakan akibat trauma angulasi atau langsung.
2). Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap sumbu tulang dan meruakan akibat trauma angulasijuga.
3). Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkan trauma rotasi.
4). Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong tulang ke arah permukaan lain.
5). Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot pada insersinya pada tulang.
4. Berdasarkan jumlah garis patah.
1) Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling berhubungan.
2) Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan.
3) Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulang yang sama.
5. Berdasarkan pergeseran fragmen tulang.
1). Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap ttetapi kedua fragmen tidak bergeser dan periosteum nasih utuh.
2). Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga disebut lokasi fragmen, terbagi atas:
a) Dislokai ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu dan overlapping).
b) Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut).
c) Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh).
6. Fraktur Kelelahan: fraktur akibat tekanan yang berulang-ulang.
7. Fraktur Patologis: fraktur yang diakibatkan karena proses patologis tulang.
Pada fraktur tertutup ada klasifikasi tersendiri yang berdasarkan keadaan jaringan lunak sekitar trauma, yaitu:
a. Tingkat 0: fraktur biasa dengan sedikit atau tanpa ceddera jaringan lunak sekitarnya.
b. Tingkat 1: fraktur dengan abrasi dangkal atau memar kulit dan jaringan subkutan.
c. Tingkat 2: fraktur yang lebih berat dengan kontusio jaringan lunak bagian dalam dan pembengkakan.
d. Tingkat 3: cedera berat dengan kerusakan jaringan lunak yang nyata ddan ancaman sindroma kompartement.
B. Etiologi
(Patofisiologi Corwin;298,KMB3;2357, Ilmu Bedah;657)
- Trauma,
- benturan dan cedera (jatuh pada kecelakaan),
- kelemahan tulang akibat penyakit kanker atau osteoporosis,
- letih, patah tulang karena otot tidak dapat mengabsorbsi energi seperti karena berjalan kaki terlalu jauh,
- Pukulan langsung,
- Kontraksi otot ekstrem,
- Gerakan puntir mendadak,
- Kelelahan (fraktur stres).
C. Tanda dan Gejala
(PatofisiologiCorwin;299,KMB 3;2358,Ilmu Bedah;657)
1. Nyeri yang terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi.
2. Mungkin tampak jelas posisi tulang atau ekstremitas yang tidak alami ( deformitas).
3. Pembengkakan disekitar fraktur akan menyertai proses peradangan dan perubahan warna lokal pd kulit akibat trauma dan pendarahan
4. Krepitus akibat gesekan /pergeseran anatara fragmen satu dan yang lainnya, yang dapat diraba atau didengar (uji krepitus dpt mengkibatkan kerusakan jaringan lunak yang lebih besar)
5. Dapat terjadi gangguan sensasi atau rasa kesemutan , yng mengisyaratkan kerusakan syaraf.
6. Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yng sebenarnya krna kontraksi otot yng melekat diatas & bawah tempat fraktur .
D. Pemeriksaan Diagnostik
(Kapita Selekta 2;348,Patofisiologi Corwin;300KMB 3;2159)
1. pemeriksaan sinar-X dapat membuktikan fraktur tulang
2. scan tulang dapat membuktikan adanya fraktur stress
3. Pemeriksaan rontgen : Menentukan lokasi/luasnya fraktur/trauma.
4. Arteriogram ; Dilakukan bila dicurigai terdapat kerusakan vaskuler.
5. anamnesa
6. Pemeriksaan umum
7. Pemeriksaan status lokalis
8. Pemeriksaan darah lengkap : Pemeriksaan darah lengkap meliputi kadar haemoglobin yang biasanya lebih rendah karena perdarahan akibat trauma. Hematokrit mungkin meningkat atau menurun (perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh dari trauma multiple). Kreatinin (trauma otot meningkatkan beban kreatinin untuk klirens ginjal). Profil koagulasi (perubahan dapat terjadi pada kehilangan darah, tranfusi multipel atau cedera hati).
Menurut Price, Sylvia Anderson, alih bahasa Peter Anugerah, (1994:1187), empat konsep dasar yang harus dipertimbangkan pada waktu menangani fraktur :
1. Rekognisi, menangani diagnosis pada tempat kejadian kecelakaan dan kemudian dibawa ke rumah sakit.
2. Reduksi, reposisi fragmen-fragmen fraktur semirip mungkin dengan keadaan letak normal, usaha-usaha tindakan manipulasi fragmen-fragmen tulang yang patah sedapat mungkin untuk kembali seperti letak asalnya.
3. Retensi, menyatakan metoda-metoda yang dilaksanakan untuk menahan fragmen-fragmen tersebut selama penyembuhan.
4. Rehabilitasi, dimulai segera setelah dan sesudah dilakukan bersamaan pengobatan fraktur, untuk menghindari atropi otot dan kontraktur sendi.
E. Penatalaksanaan Medis
(Patofisiologi Corwin;300,Kapita Selekta 2; 348)
1. fraktur harus segera diimobilisasi agar hematoma fraktur dapat terbentuk dan utk memperkecil kerusakan
2. penyambungan kembali tulang (reduksi) penting dilakukan agar posisi & rentang gerak normal pulih
3. perlu dilakukan imobilisasi jangka panjang stlh reduksi agar kalus dan tulang baru dapat terbentuk. Imobilisasi jangka panjang ini biasanya dilakukan dengan gips atau penggunaan belat
4. Pembidaian yng memadai sngt penting untuk mencegah kerusakan jaringan lunak oleh fragmen tulang
5. Pengobatan fraktur terbuka dibalut dngn pembalut bersih (steril) dan operasi & debridementnya dilakukan dalam waktu 6 jam setelah terjadinya cedera untk mengurangi kemungkinan infeksi.
6. Pengobatan fraktur tertutup bisa konservatif atau operatif
F. Komplikasi
(Patofisiologi Corwin; 300, KMB 3; 2365-2367)
1. Syok hipovolemik atau traumatik
2. Sindrom kompartemen yng ditandai oleh kerusakan atau kematian saraf yg disbkan oleh edema didaerah fraktur.
3. Dapat timbul embolus lemak setelah tulang patah, terutama tulang panjang. Embolus lemak dpt timbul akibat terpajannya sumsum tulang/ akibat pengaktifan sistem saraf simpatis setelah trauma.
4. Penyatuan terlambat dan tidak ada penyatuan .
5. Nekrosis avaskuler tulang.