Pages

Rabu, 16 November 2011

KISTA OVARIUM ( Susp. Endometrioma ) + HERNIA UMBILIKALIS DO/STGO

1.      Definisi
Kista berarti kantung yang berisi cairan. Kista ovarium (atau kista indung telur) berarti kantung berisi cairan, normalnya berukuran kecil, yang terletak di indung telur (ovarium).
Kista indung telur dapat terbentuk kapan saja, pada masa pubertas sampai menopause, juga selama masa kehamilan.
Kista ovarium merupakan perbesaran sederhana ovarium normal, folikel de graf atau korpus luteum atau kista ovarium dapat timbul akibat pertumbuhan dari epithelium ovarium ( KMB 2 ; 1556 ).
 
1.      Tipe-tipe Kista
a)      Kista Normal
Kista Fungsional : Ini merupakan jenis kista ovarium yang paling banyak ditemukan. Kista ini berasal dari sel telur dan korpus luteum, terjadi bersamaan dengan siklus menstruasi yang normal. Kista fungsional akan tumbuh setiap bulan dan akan pecah pada masa subur, untuk melepaskan sel telur yang pada waktunya siap dibuahi oleh sperma. Setelah pecah, kista fungsional akan menjadi kista folikuler dan akan hilang saat menstruasi. Kista fungsional terdiri dari: kista folikel dan kista korpus luteum. Keduanya tidak mengganggu, tidak menimbulkan gejala dan dapat menghilang sendiri dalam waktu 6-8 minggu.
b)      Kista Abnormal
Maksud kata “abnormal” disini adalah tidak normal, tidak umum, atau tidak biasanya (ada, timbul, muncul, atau terjadi). Semua tipe atau bentuk kista -selain kista fungsional- adalah kista abnormal, misalnya:
a.       Cystadenoma : Merupakan kista yang berasal dari bagian luar sel indung telur. Biasanya bersifat jinak, namun dapat membesar dan dapat menimbulkan nyeri.
b.      Kista coklat (endometrioma) : Merupakan endometrium yang tidak pada tempatnya. Disebut kista coklat karena berisi timbunan darah yang berwarna coklat kehitaman.
c.       Kista dermoid : Merupakan kista yang yang berisi berbagai jenis bagian tubuh seperti kulit, kuku, rambut, gigi dan lemak. Kista ini dapat ditemukan di kedua bagian indung telur. Biasanya berukuran kecil dan tidak menimbulkan gejala.
d.       Kista endometriosis : Merupakan kista yang terjadi karena ada bagian endometrium yang berada di luar rahim. Kista ini berkembang bersamaan dengan tumbuhnya lapisan endometrium setiap bulan sehingga menimbulkan nyeri hebat, terutama saat menstruasi dan infertilitas.
e.       Kista hemorrhage : Merupakan kista fungsional yang disertai perdarahan sehingga menimbulkan nyeri di salah satu sisi perut bagian bawah.
f.       Kista lutein : Merupakan kista yang sering terjadi saat kehamilan. Beberapa tipe kista lutein antara lain:
1)      Kista granulosa lutein : Merupakan kista yang terjadi di dalam korpus luteum ovarium yang fungsional. Kista yang timbul pada permulaan kehamilan ini dapat membesar akibat dari penimbunan darah yang berlebihan saat menstruasi dan bukan akibat dari tumor. Diameternya yang mencapai 5-6 cm menyebabkan rasa tidak enak di daerah panggul. Jika pecah, akan terjadi perdarahan di rongga perut. Pada wanita yang tidak hamil, kista ini menyebabkan menstruasi terlambat, diikuti perdarahan yang tidak teratur.
2)      Kista theca lutein : Merupakan kista yang berisi cairan bening dan berwarna seperti jerami. Timbulnya kista ini berkaitan dengan tumor ovarium dan terapi hormon
3)      Kista polikistik ovarium : Merupakan kista yang terjadi karena kista tidak dapat pecah dan melepaskan sel telur secara kontinyu. Biasanya terjadi setiap bulan. Ovarium akan membesar karena bertumpuknya kista ini. Untuk kista polikistik ovarium yang menetap (persisten), operasi harus dilakukan untuk mengangkat kista tersebut agar tidak menimbulkan gangguan dan rasa sakit. Kista ovarium ada yang bersifat jinak dan ganas (kanker). Biasanya kista yang berukuran kecil bersifat jinak. Kista ovarium sering ditemukan secara tidak sengaja pada pemeriksaan rutin.

2.      Etiologi
Sampai sekarang ini penyebab dari Kista Ovarium belum sepenuhnya dimengerti, tetapi beberapa teori menyebutkan bahwa penyebab dari kista ovarium yaitu:
a)      adanya gangguan dalam pembentukan estrogen dan dalam mekanisme umpan balik ovarium-hipotalamus.
b)      Kista ovarium disebabkan oleh gangguan (pembentukan) hormon pada hipotalamus, hipofisis, dan ovarium.
c)      gagalnya sel telur (folikel) untuk berovulasi.
Faktor resiko yang meningkatkan ca. ovarium yaitu;
a)      Herediter : Riwayat kanker ovarium pada keluarga, khususnya ibu atau saudara perempuan.
b)      Ovulasi yang lebih dari 40 tahun dan menopause yang  lambat
c)      Usia lebih dari 45 tahun dan nullipara
d)     Kehamilan pertama setelah berusia lebih dari 30 tahun
e)      Perineum terpapar terus menerus oleh talk
f)       Diet dengan nilai gizi rendah dan jumlah lemak tinggi.

3.      Tanda dan Gejala
a)      Sering tanpa disertai gejala,
b)      Nyeri disaat menstruasi
c)      Nyeri perut bagian bawah
d)     Nyeri pada saat berhubungan badan
e)      Nyeri pada punggung terkadang menjalar sampai kaki
f)       Terkadang disertai nyeri saat buang air kecil dan /atau buang air besar
g)      Siklus menstruasi tidak teratur, bisa juga jumlah darah yang keluar banyak.

4.      Prosedur diagnostic
a)      Ultrasonografi  atau USG (abdomen atau transvaginal),
b)      Laparoscopi
Untuk mengetahui apakah sebuah Tumor berasal dari uterus, dari ovarium atau tidak dan untuk menentukan sifat-sifat tumor tersebut. Dengan laparoskopi (alat teropong ringan dan tipis dimasukkan melalui pembedahan kecil di bawah pusar) dokter dapat melihat ovarium, menghisap cairan dari kista atau mengambil bahan percontoh untuk biopsi.
c)      pemeriksaan darah (tumor marker atau petanda tumor).
d)     Pmeriksaan laboratorium :
pemeriksaan sekret (yang meliputi: Trichomonas, Candida/jamur, bakteri batang, bakteri kokus, epitel, lekosit, eritrosit, epitel, dan pH) dan hematologi, misalnya: Hb (Hemoglobin).

5.      Penatalaksanaan Medis
a)      Observasi
Jika kista tidak menimbulkan gejala, maka cukup dimonitor (dipantau) selama 1-2 bulan, karena kista fungsional akan menghilang dengan sendirinya setelah satu atau dua siklus haid. Tindakan ini diambil jika tidak curiga ganas (kanker).
b)      Operasi
Jika kista membesar, maka dilakukan tindakan pembedahan, yakni dilakukan pengambilan kista dengan tindakan laparoskopi atau laparotomi. Biasanya untuk laparoskopi Anda diperbolehkan pulang pada hari ke-3 atau ke-4, sedangkan untuk laparotomi Anda diperbolehkan pulang pada hari ke-8 atau ke-9.
c)      Kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas ovarium dan menghilangkan kista.
d)     Perawatan pasca operasi setelah pembedahan untuk mengangkat kista ovarium adalah serupa dengan perawatan setelah pembedahan abdomen dengan satu pengecualian penurunan tekanan intra abdomen yang diakibatkan oleh pengangkatan kista yang besar biasanya mengarah pada distensi abdomen yang berat. Hal ini dapat dicegah dengan memberikan gurita abdomen sebagai penyangga.
e)      Tindakan keperawatan berikut pada pendidikan kepada klien tentang pilihan pengobatan dan manajemen nyeri dengan analgetik / tindakan kenyamanan seperti kompres hangat pada abdomen atau teknik relaksasi napas dalam, informasikan tentang perubahan yang akan terjadi seperti tanda – tanda infeksi, perawatan insisi luka operasi.

6.      Penatalaksanaan diet
a)      Diet dan olahraga untuk menurunkan berat badan.
b)      Perbanyak makan sayur dan buah yang kaya vitamin A, karotenoid dan vitamin B; hindari daging, keju, gorengan, alkohol, kafein, kurangi gula.
c)      Metformin untuk menurunkan gula darah.
d)     Obat-obatan yang merangsang pematangan sel telur.

7.      Pengobatan
a)      pengobatan
Pengobatan yang dilakukan bergantung pada umur, jenis dan ukuran kista dan gejala-gejala yang diderita. Beberapa pilihan pengobatan yang mungkin disarankan.
b)      Pendekatan
Jika wanita usia reproduksi yang masih ingin hamil, berovulasi teratur, tanpa gejala, dan hasil USG menunjukkan kista berisi cairan, dokter tidak memberikan pengobatan apapun dan menyarankan untuk pemeriksaan USG ulangan secara periodik (selang 2-3 siklus haid) untuk melihat apakah ukuran kista membesar. Pendekatan ini juga menjadi pilihan bagi wanita pascamenopause jika kista berisi cairan dan diameternya kurang dari 5 cm.

c)      Pil kontrasepsi : Jika terdapat kista fungsional, pil kontrasepsi yang digunakan untuk mengecilkan ukuran kista. Pemakaian pil kontrasepsi juga mengurangi peluang pertumbuhan kista.

d)     Pembedahan
Jika kista besar (diameter > 5 cm), padat, tumbuh atau tetap selama 2-3 siklus haid, atau kista yang berbentuk iregular, menyebabkan nyeri atau gejala-gejala berat, maka kista dapat dihilangkan dengan pembedahan. Jika kista tersebut bukan kanker, dapat dilakukan tindakan miomektomi untuk menghilangkan kista dengan ovarium masih pada tempatnya. Jika kista tersebut merupakan kanker, dokter akan menyarankan tindakan histerektomi untuk pengangkatan ovarium.

8.      Terapi obat
l  Cygest
a)      Indikasi:Setelah mencapai sel Inti itu mengikat reseptor progesteron dan mempengaruhi transkripsi satu set gen terbatas.
b)      Ketika harus diambil: Pemeliharaan kehamilan dalam kasus aborsi atau mengancam kebiasaan. 200-400mgs/day dalam dosis terbagi. Premenstrual sindrom: 200-400mgs 1-2 kali setiap hari dari 12 sampai 14 hari dari siklus sampai onset menstruasi. Untuk depresi purporeal: 400mg dua kali sehari dalam dosis terbagi. Dapat diberikan secara oral, vaginal atau dubur untuk administrasi vagina & dubur, kapsul harus dimasukkan jauh ke dalam vagina atau dubur.
c)      Instruksi Khusus: Informasikan dokter anda dalam kasus perdarahan vagina yang tidak terdiagnosis, tidak terjawab atau tidak lengkap aborsi, penyakit arteri parah, karsinoma mammae dan porfiria, diabetes, hipertensi, penyakit jantung atau ginjal.
d)     Efek Samping: Jerawat, urtikaria, retensi cairan, perubahan berat badan, gangguan GI, perubahan libido, ketidaknyamanan payudara, gejala pra-menstruasi, depresi, pireksia, hirsotism, jarang sakit kuning.
e)      Kewaspadaan lainnya : Kontraindikasi pada kasus kehamilan. Keselamatan tidak didirikan dalam kasus laktasi. Obat berinteraksi dengan cyclosporin dan rifamycins.

9.      Komplikasi
a)      Beberapa ahli mencurigai kista ovarium bertanggung jawab atas terjadinya kanker ovarium pada wanita diatas 40 tahun. Mekanisme terjadinya kanker masih belum jelas namun dianjurkan pada wanita yang berusia diatas 40 tahun untuk melakukan skrining atau deteksi dini terhadap kemungkinan terjadinya kanker ovarium.
b)      Faktor resiko lain yang dicurigai adalah penggunaan kontrasepsi oral terutama yang berfungsi menekan terjadinya ovulasi. Maka dari itu bila seorang wanita usia subur menggunakan metode konstrasepsi ini dan kemudian mengalami keluhan pada siklus menstruasi, lebih baik segera melakukan pemeriksaan lengkap atas kemungkinan te  rjadinya kanker ovarium.




1 komentar:

  1. Kista bagi seorang perempuan adalah mimpi buruk temukan tips dan trik di tanyadok.com portal layanan kesehatan

    BalasHapus